PENGORBANAN
UNTUK ANUGRAH TERINDAH
Sore itu matahari masih menampakkan sinarnya meskipun agak ragu.
Awan mendungpun bersembunyi di balik tubuh sang surya yang memantulkan
cahayanya ke seluruh penjuru semesta. Tanpa lelah pancarannya tetap mengiringi
pulangnya mahasiswa baru yang baru saja selesai ospek di hari terakhirnya.
Jalananpun penuh sesak dengan lalu lalang kendaraan yang saling berebut untuk
mendapat giliran berbaris. Suara-suara klakson saling bergantian keluar masuk
melalui sepasang gendang telinga tanpa memberi sedikit celah udara di
sela-selanya. Tak mau kalah dengan situasi itu, para pejalan kaki juga ikut
berbaris rapi di tepi-tepi jalan bagaikan rayap yang berbaris menyusuri
dinding. Sesekali ada yang mengomel tak karuan yang entah ditujukan kepada
siapa.
Dia duduk di lantai bawah tangga menunggu seseorang yang biasanya
menjemputnya selama kegiatan ospek berlangsung. Tanpa rasa malu dia bersandar
di dinding dengan topi kerucut di kepala, cocard nama di dada, tas plastik di
pangkuan, dan hp di tangan kanannya. Sedangkan tangan kirinya membawa lipatan
jas almamater ungunya. Sesekali dia melihat layar hp dan kemudian melirik jam
tangannya. Kepadatan jalan kini mulai menyusut detik demi detik. Tapi orang
yang di tunggunya tak kunjung datang. Tiba-tiba hpnya berdering dan dia segera
mengangkatnya.
“Halo, assalamu’alaikum... Yaahh... jadi kakak tidak bisa
menjemputku hari ini? Oohh...gt. Ya sudah kak tidak apa-apa. Iya,
wa’alaikumsalam...”
Dia belum punya rumah kontrakan di daerah dekat kampusnya. Sementara
ini dia harus bolak balik dari rumah kakaknya menuju kampus yang jaraknya
lumayan jauh. Sebagai orang baru, dia belum hafal betul dengan daerah baru yang
dia tempati sekarang. Bahkan dia tidak tau harus naik bus yang mana untuk
menuju rumah kakaknya. Dia adalah gadis pendiam dan pemalu yang tidak berani
untuk mengajak orang berkenalan. Dia paling tidak bisa basa-basi. Tapi dia
adalah gadis periang dan selalu semangat. Dia masih berada di tempat dimana dia
duduk sejak tadi sambil berfikir bagaimana dia akan pulang. Dia melihat di
sekelilingnya, hanya ada dua orang yang berada di area yang sama dengannya.
Satu orang pemuda tampan dengan memakai jas almamaternya yang sedang duduk di
kursi di dekatnya dan memainkan jemarinya di atas kipet hpnya. Dan seorang
gadis cantik yang duduk di pojok kursi lain yang agak jauh dengannya sambil
memainkan rambut dengan jemarinya. Satu-satunya cara yang ada di benaknya
sekarang adalah bertanya kepada salah satu diantara mereka berdua. Tapi dia
bingung harus mulai darimana dan harus berkata apa. Dia mengumpulkan
keberaniannya untuk memulai aksinya.
Akhirnya dia beranjak dari tangga yang didudukinya. Tapi saat dia
ingin bertanya kepada gadis yang disana ternyata gadis itu sudah berdiri dan
meninggalkan tempat duduknya. Hanya tinggal satu harapan yaitu bertanya kepada
pemuda yang di dekatnya.
“Permisi...”
“Iya?”
Suara pemuda itu begitu lembut terdengar. Tidak keras, tidak
lirih, juga tidak parau. Tapi halus seperti hembusan angin yang meniup dedaunan
di pagi hari. Sejenak dia berfikir, semerdu apakah suaranya saat dia bernyanyi?
“Emm... Maaf, Anda orang sini bukan?”
“Bukan, ada apa ya?”
“Lalu, Anda orang mana?”
Pertanyaan yang aneh. Benar-benar dia gadis yang tidak pandai
berbasa-basi. Ekspresi wajahnya menunjukkan kebingungan. Seperti orang bodoh
saja.
“Saya orang Bogor”
“Oh, saya kira orang Bandung. Tapi ngomong-ngomong, apa Anda tau
Matahari Mall di Bandung?”
“Iya. Saya tahu.”
“Emm... Kira-kira kalau dari arah sini naiknya bus apa ya?”
“Oh, maaf. Kalau itu saya tidak tahu. Memangnya Anda mau kemana?”
“Ah, tidak. Saya hanya tidak tahu jalan pulang.”
Tampak ada kekecewaan mendengar jawaban pemuda itu. Wajah polosnya
agak pucat tetapi tetap berseri dan menunjukkan rasa semangat.
“Loh, lalu bagaimana dengan hari-hari Anda sebelum hari ini?”
“Oh, saya dijemput kakak saya. Kebetulan dia tidak bisa menjemput
saya hari ini. Makanya saya harus naik bus untuk pulang. Tapi saya belum tahu
daerah sini.hehee...”
“Oh... begitu. Bagaimana kalau saya antar saja?”
“Ah, tidak perlu. Terimakasih banyak. Saya naik bus saja.”
“Tapi ini sudah hampir malam. Anda juga tidak tahu harus naik bus
yang mana. Disini juga sepi sekali. Sebaiknya Anda saya antar.”
“Ti...”
“Jangan khawatir. Saya hanya akan mengantar Anda sampai tujuan.”
Gadis polos itu menerima tawaran pemuda yang belum dia kenal itu
dengan mudahnya tanpa mempertimbangkan hal-hal buruk yang mungkin bisa terjadi.
Di tengah-tengah perjalanan tak ada sepatah katapun yang keluar
dari mulut mereka. Sepertinya mereka masih canggung satu sama lain. Hanya saat
sampai di depan Matahari Mall terjadi sedikit percakapan antar mereka berdua
yang ternyata gadis itu masih bingung setelah mereka sampai. Karena biasanya
dia tidak melewati depan melainkan bagian belakang Mall. Akhirnya dengan penuh
sopan santun dan suara lembutnya pemuda itu bertanya pada tukang becak yang
sedang mangkal di daerah sana dimana tepatnya letak rumah kakak gadis itu.
Setelah agak lama berputar-putar, akhirnya mereka sampai juga di tujuan mereka.
“Terimakasih ya...”
“Iya, sama-sama. Senang bisa membantu Anda.”
“Emm... Boleh saya minta nomor hp Anda?”
Pemuda itu memberikan nomor hpnya kepada gadis itu.
“Emm... Harus saya buat nama apa di hp saya?”
“Aditya. Aditya Setyananta. Lalu, bagaimana saya memanggil Anda?”
“Melody.”
Kemudian Aditya meninggalkan Melody di depan rumah kakaknya.
Di hari pertama
kuliah dimulai mereka bertemu lagi. Dengan tidak diduga, ternyata mereka
mengambil jurusan yang sama. S1 Arsitek. Melody tidak menyangka bahwa mereka
satu jurusan. Karena dari penampilannya, Aditya sepertinya dari jurusan
kedokteran. Di mata kuliah pertama, Dwi Matra mereka tampak akrab satu sama
lain. Dalam percakapan mereka pun sudah tidak memakai bahasa formal seperti
saat pertama mereka bertemu. Mereka saling bertanya apa yang belum mereka pahami.
Tetapi di mata kuliah kedua, Design Interior mereka berbeda kelas. Para
mahasiswa baru mulai mencari mangsa untuk dijadikan teman mereka. Mereka
berkenalan dengan satu dan yang lainnya. Namun ada juga sekelompok mahasiswa
yang sudah saling mengenal karena berasal dari sekolah yang sama. Meskipun hari
itu adalah hari pertama, tapi jadwal-jadwal perkuliahan sudah mulai memadati
mahasiswa baru.
Sampai di mata
kuliah terakhir hari itu, Aditya dan Melody kembali lagi dalam satu kelas.
Tidak seperti mata kuliah sebelumnya yang hanya perkenalan dan bercerita, pak
Danu dosen mata kuliah Stupa langsung menginjak pada materi bab 1 setelah
beberapa saat perkenalan. Sebelum itu, pak Danu menentukan ketua kelas dan
membuat kontrak belajar dengan mahasiswanya. Beliau menjelaskan materi dengan
penuh semangat dan tegas. Ya, memang pak Danu dikenal dengan dosen yang
termasuk killer oleh kakak-kakak senior. Sehingga mahasiswa barupun tak
ada yang berani dengan beliau. Di pertemuan pertama kuliahnya, beliau sudah
meminta mahasiswanya untuk membuat kelompok berpasangan untuk melakukan
penelitian.
Para mahasiswa
sibuk mencari pasangan mereka masing-masing. Berjalan dan berputar kesana
kemari hingga kelas menjadi penuh sesak dan bising. Sementara di saat keadaan
masih tenang, Aditya dan Melody saling bertatap mata dan kedua telunjuk mereka
saling menuding ke arah depan mereka masing-masing sebagai isyarat bahwa mereka
ingin menjadi satu kelompok. Sementara teman-teman mereka bingung mencari
kelompok, mereka sudah tenang dan duduk membaca buku mereka masing-masing.
Setelah keadaan kelas tenang dan sudah dipastikan semua mahasiswa mendapatkan
kelompok, pak Danu menjelaskan apa yang harus diteliti dan membagi tempat
penelitian masing-masing kelompok. Semua mahasiswa mengangguk pertanda
mengerti.
* *
* * *
*
Saat jam istirahat, Melody makan siang bersama teman-temannya.
Tidak berbeda dengan orang lain, mereka makan sambil mengobrol membicarakan ini
dan itu. Apalagi bersama teman baru, banyak sekali yang mereka ceritakan. Rona,
teman baru Melody yang juga satu kelas di mata kuliah Stupa sangat cantik.
Paras wajahnya menarik. Tubuhnya tinggi, ramping, ideal seperti model.
Rambutnya terurai panjang hitam dan lurus. Anggun yang juga teman baru Melody,
tetapi satu kelas di mata kuliah Arch Lingkungan sangat manis tapi cerewet.
Tubuhnya tak setinggi Rona, tapi masih termasuk proporsional. Rambutnya
tertutup oleh jilbabnya yang indah dan terlihat sangat anggun. Berbeda dengan
teman-temannya, Melody lebih kecil, mungil, imut, dan menggemaskan. Ya, dia
yang paling kecil diantara teman-temannya. Kalau saja tubuhnya agak tinggi
sedikit, maka dia akan mempunyai tubuh yang ideal seperti teman-temannya.
Tetapi dia tidak malu dengan dirinya sendiri. Jilbabnya selalu dihias sedemikian
cantik olehnya dengan model yang unik dan bervariasi. Dia adalah gadis periang
dan selalu menebarkan senyuman kepada orang-orang di sekelilingnya. Hobi
menyanyinya digunakannya dimanapun dia berada. Dia selalu bersenandung di saat
dia beraktivitas apapun yang suasanya tidak melarang dia untuk bernyanyi. Tidak
menyangkalnya, suaranya memang halus merdu dan enak didengar.
“Eh Mel, ngomong-ngomong soal Stupa nih, gimana ceritanya sih kamu
bisa pasangan sama si tampan itu?”
“Aditya maksud kamu?”
“Ya iya lah... siapa lagi? Emang kamu pasangannya sama pak Danu?hahaha...”
“Emm... Kebetulan kami kenal di ospek aja kok.”
“Ah, Rona... Aditya itu kan pahlawan kesiangannya Melody... Eh,
lebih tepatnya pahlawan kesorean.hahaha... Emang kamu ga tau?”
“Anggun... Apaan sih...”
“Wah, kayaknya aku ketinggalan cerita yang satu ini nih... Eh,
tapi kamu enak banget Nggun dosen kita beda. Ga kayak pak killer itu. Baru hari
pertama kuliah udah dikasih tugas seberat itu...”
“Halaahh... Biarin aja. Dengan begitu kan putri kita bisa PDKT
sama si pangeran...”
“Anggun... Udah deh...”
* *
* * *
*
Sore harinya,
Melody dan Aditya mulai dengan penelitian pertama mereka. Karena tempat
penelitiannya di tentukan oleh pak Danu, maka mereka harus mencari terlebih
dahulu dimana tempatnya. Mereka mencari sebuah desa yang tertera di dalam
alamat yang diberikan oleh pak Danu. Mereka harus bertanya dari desa satu ke
desa yang lainnya. Setelah akhirnya mereka menemukan desanya, Cempaka Wangi,
kemudian mereka mencari lokasi pastinya yang akan mereka teliti. Beberapa
penduduk yang tinggal disana ikut membantu dalam pencarian lokasi itu dengan
antusias. Dengan bantuan pak Wijaya, warga desa Cempaka Wangi, Aditya dan
Melody tidak harus berputar-putar mengelilingi luasnya desa. Mereka hanya perlu
mengikuti pak Wijaya dan langsung menemukan lokasinya. Dengan begitu mereka
bisa menggunakan waktu mereka seefisien mungkin.
Kini mereka berada di depan sebuah bangunan tua berlantai
tiga yang
sepertinya sudah rapuh. Dindingnya sudah tidak bisa ditebak lagi warna
dasarnya. Pintunyapun sudah tidak berbekas. Bahkan atapnya adalah langit. Ya,
memang bangunan itu sudah lama tidak ditempati, juga tidak ada bekas renovasi.
Menurut informasi dari warga, bangunan itu dulunya adalah rumah mewah yang terbakar
karena arus pendek. Pemiliknya pindah dari desa itu dan membeli rumah mewah di
luar kota. Rumah itu jauh dari kerumunan rumah lainnya. Tidak ada tetangga
satupun di samping rumahnya. Nampaknya mereka menjalani kehidupan mereka tanpa
bersosialisasi dengan warga. Karena mereka dari golongan konglomerat, mereka
sudah tidak menginginkan rumah dan tanah mereka lagi akibat kebakaran itu.
Akhirnya rumah itu menjadi bangunan yang tak terurus dan kini siap roboh
kapanpun. Warga sekitar sudah menasehati mereka berdua agar berhati-hati dalam
masa penelitian mereka. Setelah mengantarkan sampai tujuan, pak Wijaya
meninggalkan mereka di bangunan itu. Kemudian mereka masuk dan mulai melakukan
penelitian mereka bersama. Setelah matahari sudah enggan menampakkan sinarnya,
mereka berdua bergegas pulang.
“Mel... Melody? Melody kan?”
“Hei... Iya. Masa lupa. Kamu apa kabar Nanda?”
Nanda adalah teman Melody saat duduk di bangku sekolah dasar. Tak
heran jika dia agak tak mengenal Melody yang sekarang benar-benar anggun dan cantik.
Karena dulu Melody adalah anak tomboi yang sering berkelahi dengan teman
laki-lakinya. Tapi kenyataannya kini sungguh sangat berbeda dan berbanding 180
derajat.
“Wah, ini bener kamu Mel?Kamu sekarang beda banget... Ga nyangka
bisa ketemu kamu disini. Sedang apa kamu disini?”
“Ya iya lah ini aku. Aku baru selesai penelitian. Kamu sendiri?
Eh, gimana kabar kamu?”
“Eh, iya. Sampai lupa jawabnya. Kabar baik nih. Ak tinggal disini
sekarang. Biar deket sama kampus. Kamu ambil jurusan apa nih?”
“Ohh... Aku arsitek. Kamu? Oh iya, kenalin, ini partner
penelitianku, Aditya.”
“Aku ambil seni. Hai, bro. Aku Nanda...”
“Hai,.. Aditya.”
“Waoo... Vocalist ya bro? Keren nih suara kamu.”
“Hahahaa... Vocalist kamar mandi. Ada-ada aja kamu.”
“Biasa Dit, ilmu seninya Nanda lagi main tuh...”
Mereka melanjutkan obrolan mereka sambil berlalu dari bangunan
itu.
* *
* * *
*
Satu minggu, dua minggu, tiga minggu telah berlalu. Hari-hari
pemuda dan gadis itu disibukkan dengan penelitian yang mereka garap. Pak Danu
memberikan batas waktu satu bulan untuk menyelesaikan tugas-tugas mahasiswanya.
Kini tiba hari terakhir mereka menyelesaikan riset mereka. Berdasarkan
penelitian mereka selama beberapa minggu, mereka menyimpulkan bahwa informasi
yang diberikan oleh warga desa Cempaka Wangi tidak semuanya benar. Bangunan
yang tadinya dikatakan bisa roboh kapanpun ternyata adalah bangunan yang sangat
kokoh meskipun sudah bertahun-tahun usianya. Ya, memang kualitas bahan-bahan
bangunan yang digunakan oleh pemilik rumah itu sangat bagus. Sehingga struktur
dan kekuatan bangunan itu bisa tahan lama. Mungkin salah satu faktornya adalah
karena mereka mempunyai biaya untuk membuat rumah mereka sesempurna mungkin.
“Oh iya Dit, aku periksa di lantai atas dulu ya. Bagian atapnya kan
belum kita teliti.”
“Atapnya biar aku aja Mel nanti yang kerjain kalo yang ini udah
selesai.”
“Ah, ga apa-apa kok. Kamu selesaikan tugas kamu disini dulu aja.
Lagian aku juga udah ga ada kerjaan nih. Daripada nganggur, kan bisa bantu kamu
gitu.”
“Oke deh... hati-hati ya Mel.”
“Siap boss...”
Mereka mulai sibuk dengan riset mereka masing-masing. Aditya
beranjak dari lantai satu ke lantai lainnya. Lantai yang terbuat dari keramik
itu nampaknya sudah banyak yang retak. Bahkan ada yang sudah berkeping-keping.
Pemuda 19 tahun itu mengeluarkan semua peralatan penelitiannya. Dia memang
sudah mempersiapkannya jauh-jauh hari sebelum dia memulai penelitian. Karena
dia paling suka meneliti bagian itu sehingga peralatannya sangat lengkap.
Sementara Aditya meneliti struktur lantai di lantai dasar, Melody naik ke
lantai paling atas. Gadis lemah lembut dengan jilbab yang terurai di dadanya
itu dengan lincahnya menaiki anak tangga. Bahkan kalau saja anak tangga itu
bisa bicara, mereka mungkin merengek kesakitan karena pijakan kaki Melody yang
terlalu semangat. Setelah sampai di lantai 3, Melody langsung naik ke atap
dengan tangga dorongnya. Dia berdiri di atas balkon yang langsung disapa oleh
panasnya terik matahari. Tetapi sesampainya disana, dia tidak langsung mulai
melaksanakan apa yang harus dia kerjakan. Dia melihat pemandangan di sekitar
terlebih dahulu dan berkeliling sejenak. Ternyata memang indah pemandangan di
bawah sana apabila di lihat dari atas. Gadis yang mudah kagum itu cukup lama
menikmati indahnya pemandangan disana. Namun akhirnya dia sadar dari lamunannya
dan mulai beraktivitas kembali. Setelah Aditya menyelesaikan tugasnya di bawah,
dia kemudian menyusul Melody di balkon.
“Hei Mel, udah selesai belum?”
“Belum nih bentar lagi Dit. Kamu udah selesai di bawah?”
“Udah dong... sini aku bantu.”
Dan akhirnya selesai juga penelitian mereka. Hanya butuh beberapa
hari lagi untuk menyelesaikan laporannya. Mereka beristirahat dulu di balkon
sambil minum softdrink dan makan beberapa camilan yang sudah mereka pesiapkan.
Tiba-tiba mereka mendengar suara letusan. Sepertinya suara tembakan senapan.
Tidak lama setelah itu sesuatu terjatuh ke tepi balkon dan masih
bergerak-gerak. Mereka berdua mendekatinya. Ternyata seekor burung merpati yang
cantik terkena tembakan di bagian sayapnya. Mungkin ada pemburu tanpa belas
kasihan yang mengincarnya. Melody mengelus sayapnya yang terluka. Dengan segera
dia mengambil kotak P3K di ranselnya dan berlagak seperti dokter hewan
mengobati merpati itu. Setelah selesai di perban, merpati itu nampaknya lebih
kuat sekarang dan dia mencoba untuk terbang lagi meskipun dengan kesakitan.
Merpati itu melayang rendah di atas balkon. Melody mencoba meraihnya tapi dia
tidak mempertimbangkan medan disekelilingnya. Dia terpeleset di tepi balkon dan
segera dikejar oleh Aditya. Dia mencoba untuk meraih tangan Melody, namun
sayang, dia tersandung batu kerikil di depannya dan dia pun ikut terpeleset.
Aditya memegang tepi balkon dengan tangannya, sementara Melody memegang kedua
kaki Aditya dan mereka sama-sama bergantungan tepi di balkon lantai 3. Dengan
sekuat tenaga mereka berpegangan dan berteriak berusaha meminta pertolongan.
Namun siapa yang akan mendengarnya. Rumah itu jauh dari rumah-rumah lain.
Sepertinya tidak ada yang mendengar mereka. Cukup lama mereka bertahan dalam
kondisi seperti itu. Tangan mereka mulai pedih dan pegal. Tapi mereka tidak
bisa melakukan apa-apa selain berdoa dan menunggu seseorang datang menolong
mereka meskipun kemungkinannya sangat kecil.
“Mel, tetap kuat ya Mel. Pasti akan ada yang datang menolong kita.
Jangan sampai lepas ya Mel pegangannya”
“Aditya, tolong dengar aku. Dengar aku baik-baik. Apapun yang
terjadi nanti, tolong kamu tetap berusaha hidup. Jangan menyerah dan tetap
berusaha naik ya Dit..”
“Maksud kamu apa Mel? Kamu jangan memikirkan hal yang aneh-aneh
Mel. Kita akan selamat. Kita berdua pasti selamat. Aku, dan kamu.”
“Tidak akan ada yang mendengar kita Adit. Kalau aku terus berada
disini, kamu tidak akan bisa menggerakkan kaki kamu. Kamu tidak bisa berusaha
naik. Dan kita akan mati bersama. Berjanjilah kepadaku Adit. Kamu akan hidup.
Aku mohon.”
“Kamu ini ngomong apa sih Mel? Jangan macam-macam ah.”
“Kamu harus tetap hidup Dit. Demi aku. Terimakasih atas semua yang
telah kamu berikan untukku selama ini ya Dit. Kamu adalah sahabat terbaikku.
Kamu adalah anugrah terindah untukku. Selamat tinggal Aditya...”
Melody melepaskan genggaman tangannya dari kaki Aditya. Aditya
tidak menyangka bahwa Melody akan berbuat seperti itu. Dengan tangisan air mata
Aditya mencoba naik ke atas dan mengulang pesan-pesan Melody dalam hatinya.
Setelah dia selamat, dia langsung berlari menuruni anak tangga dua-dua
menghampiri Melody yang bersimpuh darah. Aditya berteriak sekeras-kerasnya
memanggil Melody dengan harapan dia akan kembali dan membuka kedua matanya.
Tapi itu tidak mungkin terjadi. Melody sudah tiada. Dia mengorbankan hidupnya
untuk seorang sahabat.

2 komentar:
Ter haru...embun cocok jadi novelis
Hihihii...
Aku baca cerita ini lagi malah lucu 😂
Posting Komentar