Sabtu, 21 Juli 2012

Pengorbanan untuk Anugrah Terindah


PENGORBANAN UNTUK ANUGRAH TERINDAH

Sore itu matahari masih menampakkan sinarnya meskipun agak ragu. Awan mendungpun bersembunyi di balik tubuh sang surya yang memantulkan cahayanya ke seluruh penjuru semesta. Tanpa lelah pancarannya tetap mengiringi pulangnya mahasiswa baru yang baru saja selesai ospek di hari terakhirnya. Jalananpun penuh sesak dengan lalu lalang kendaraan yang saling berebut untuk mendapat giliran berbaris. Suara-suara klakson saling bergantian keluar masuk melalui sepasang gendang telinga tanpa memberi sedikit celah udara di sela-selanya. Tak mau kalah dengan situasi itu, para pejalan kaki juga ikut berbaris rapi di tepi-tepi jalan bagaikan rayap yang berbaris menyusuri dinding. Sesekali ada yang mengomel tak karuan yang entah ditujukan kepada siapa.

Dia duduk di lantai bawah tangga menunggu seseorang yang biasanya menjemputnya selama kegiatan ospek berlangsung. Tanpa rasa malu dia bersandar di dinding dengan topi kerucut di kepala, cocard nama di dada, tas plastik di pangkuan, dan hp di tangan kanannya. Sedangkan tangan kirinya membawa lipatan jas almamater ungunya. Sesekali dia melihat layar hp dan kemudian melirik jam tangannya. Kepadatan jalan kini mulai menyusut detik demi detik. Tapi orang yang di tunggunya tak kunjung datang. Tiba-tiba hpnya berdering dan dia segera mengangkatnya.
“Halo, assalamu’alaikum... Yaahh... jadi kakak tidak bisa menjemputku hari ini? Oohh...gt. Ya sudah kak tidak apa-apa. Iya, wa’alaikumsalam...”

Dia belum punya rumah kontrakan di daerah dekat kampusnya. Sementara ini dia harus bolak balik dari rumah kakaknya menuju kampus yang jaraknya lumayan jauh. Sebagai orang baru, dia belum hafal betul dengan daerah baru yang dia tempati sekarang. Bahkan dia tidak tau harus naik bus yang mana untuk menuju rumah kakaknya. Dia adalah gadis pendiam dan pemalu yang tidak berani untuk mengajak orang berkenalan. Dia paling tidak bisa basa-basi. Tapi dia adalah gadis periang dan selalu semangat. Dia masih berada di tempat dimana dia duduk sejak tadi sambil berfikir bagaimana dia akan pulang. Dia melihat di sekelilingnya, hanya ada dua orang yang berada di area yang sama dengannya. Satu orang pemuda tampan dengan memakai jas almamaternya yang sedang duduk di kursi di dekatnya dan memainkan jemarinya di atas kipet hpnya. Dan seorang gadis cantik yang duduk di pojok kursi lain yang agak jauh dengannya sambil memainkan rambut dengan jemarinya. Satu-satunya cara yang ada di benaknya sekarang adalah bertanya kepada salah satu diantara mereka berdua. Tapi dia bingung harus mulai darimana dan harus berkata apa. Dia mengumpulkan keberaniannya untuk memulai aksinya.

Akhirnya dia beranjak dari tangga yang didudukinya. Tapi saat dia ingin bertanya kepada gadis yang disana ternyata gadis itu sudah berdiri dan meninggalkan tempat duduknya. Hanya tinggal satu harapan yaitu bertanya kepada pemuda yang di dekatnya.
“Permisi...”
“Iya?”
Suara pemuda itu begitu lembut terdengar. Tidak keras, tidak lirih, juga tidak parau. Tapi halus seperti hembusan angin yang meniup dedaunan di pagi hari. Sejenak dia berfikir, semerdu apakah suaranya saat dia bernyanyi?
“Emm... Maaf, Anda orang sini bukan?”
“Bukan, ada apa ya?”
“Lalu, Anda orang mana?”
Pertanyaan yang aneh. Benar-benar dia gadis yang tidak pandai berbasa-basi. Ekspresi wajahnya menunjukkan kebingungan. Seperti orang bodoh saja.
“Saya orang Bogor”
“Oh, saya kira orang Bandung. Tapi ngomong-ngomong, apa Anda tau Matahari Mall di Bandung?”
“Iya. Saya tahu.”
“Emm... Kira-kira kalau dari arah sini naiknya bus apa ya?”
“Oh, maaf. Kalau itu saya tidak tahu. Memangnya Anda mau kemana?”
“Ah, tidak. Saya hanya tidak tahu jalan pulang.”
Tampak ada kekecewaan mendengar jawaban pemuda itu. Wajah polosnya agak pucat tetapi tetap berseri dan menunjukkan rasa semangat.
“Loh, lalu bagaimana dengan hari-hari Anda sebelum hari ini?”
“Oh, saya dijemput kakak saya. Kebetulan dia tidak bisa menjemput saya hari ini. Makanya saya harus naik bus untuk pulang. Tapi saya belum tahu daerah sini.hehee...”
“Oh... begitu. Bagaimana kalau saya antar saja?”
“Ah, tidak perlu. Terimakasih banyak. Saya naik bus saja.”
“Tapi ini sudah hampir malam. Anda juga tidak tahu harus naik bus yang mana. Disini juga sepi sekali. Sebaiknya Anda saya antar.”
“Ti...”
“Jangan khawatir. Saya hanya akan mengantar Anda sampai tujuan.”
Gadis polos itu menerima tawaran pemuda yang belum dia kenal itu dengan mudahnya tanpa mempertimbangkan hal-hal buruk yang mungkin bisa terjadi.

Di tengah-tengah perjalanan tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut mereka. Sepertinya mereka masih canggung satu sama lain. Hanya saat sampai di depan Matahari Mall terjadi sedikit percakapan antar mereka berdua yang ternyata gadis itu masih bingung setelah mereka sampai. Karena biasanya dia tidak melewati depan melainkan bagian belakang Mall. Akhirnya dengan penuh sopan santun dan suara lembutnya pemuda itu bertanya pada tukang becak yang sedang mangkal di daerah sana dimana tepatnya letak rumah kakak gadis itu. Setelah agak lama berputar-putar, akhirnya mereka sampai juga di tujuan mereka.
“Terimakasih ya...”
“Iya, sama-sama. Senang bisa membantu Anda.”
“Emm... Boleh saya minta nomor hp Anda?”
Pemuda itu memberikan nomor hpnya kepada gadis itu.
“Emm... Harus saya buat nama apa di hp saya?”
“Aditya. Aditya Setyananta. Lalu, bagaimana saya memanggil Anda?”
“Melody.”
Kemudian Aditya meninggalkan Melody di depan rumah kakaknya.
          
             Di hari pertama kuliah dimulai mereka bertemu lagi. Dengan tidak diduga, ternyata mereka mengambil jurusan yang sama. S1 Arsitek. Melody tidak menyangka bahwa mereka satu jurusan. Karena dari penampilannya, Aditya sepertinya dari jurusan kedokteran. Di mata kuliah pertama, Dwi Matra mereka tampak akrab satu sama lain. Dalam percakapan mereka pun sudah tidak memakai bahasa formal seperti saat pertama mereka bertemu. Mereka saling bertanya apa yang belum mereka pahami. Tetapi di mata kuliah kedua, Design Interior mereka berbeda kelas. Para mahasiswa baru mulai mencari mangsa untuk dijadikan teman mereka. Mereka berkenalan dengan satu dan yang lainnya. Namun ada juga sekelompok mahasiswa yang sudah saling mengenal karena berasal dari sekolah yang sama. Meskipun hari itu adalah hari pertama, tapi jadwal-jadwal perkuliahan sudah mulai memadati mahasiswa baru.
            
              Sampai di mata kuliah terakhir hari itu, Aditya dan Melody kembali lagi dalam satu kelas. Tidak seperti mata kuliah sebelumnya yang hanya perkenalan dan bercerita, pak Danu dosen mata kuliah Stupa langsung menginjak pada materi bab 1 setelah beberapa saat perkenalan. Sebelum itu, pak Danu menentukan ketua kelas dan membuat kontrak belajar dengan mahasiswanya. Beliau menjelaskan materi dengan penuh semangat dan tegas. Ya, memang pak Danu dikenal dengan dosen yang termasuk killer oleh kakak-kakak senior. Sehingga mahasiswa barupun tak ada yang berani dengan beliau. Di pertemuan pertama kuliahnya, beliau sudah meminta mahasiswanya untuk membuat kelompok berpasangan untuk melakukan penelitian.
            
           Para mahasiswa sibuk mencari pasangan mereka masing-masing. Berjalan dan berputar kesana kemari hingga kelas menjadi penuh sesak dan bising. Sementara di saat keadaan masih tenang, Aditya dan Melody saling bertatap mata dan kedua telunjuk mereka saling menuding ke arah depan mereka masing-masing sebagai isyarat bahwa mereka ingin menjadi satu kelompok. Sementara teman-teman mereka bingung mencari kelompok, mereka sudah tenang dan duduk membaca buku mereka masing-masing. Setelah keadaan kelas tenang dan sudah dipastikan semua mahasiswa mendapatkan kelompok, pak Danu menjelaskan apa yang harus diteliti dan membagi tempat penelitian masing-masing kelompok. Semua mahasiswa mengangguk pertanda mengerti.
*    *    *    *    *    *
Saat jam istirahat, Melody makan siang bersama teman-temannya. Tidak berbeda dengan orang lain, mereka makan sambil mengobrol membicarakan ini dan itu. Apalagi bersama teman baru, banyak sekali yang mereka ceritakan. Rona, teman baru Melody yang juga satu kelas di mata kuliah Stupa sangat cantik. Paras wajahnya menarik. Tubuhnya tinggi, ramping, ideal seperti model. Rambutnya terurai panjang hitam dan lurus. Anggun yang juga teman baru Melody, tetapi satu kelas di mata kuliah Arch Lingkungan sangat manis tapi cerewet. Tubuhnya tak setinggi Rona, tapi masih termasuk proporsional. Rambutnya tertutup oleh jilbabnya yang indah dan terlihat sangat anggun. Berbeda dengan teman-temannya, Melody lebih kecil, mungil, imut, dan menggemaskan. Ya, dia yang paling kecil diantara teman-temannya. Kalau saja tubuhnya agak tinggi sedikit, maka dia akan mempunyai tubuh yang ideal seperti teman-temannya. Tetapi dia tidak malu dengan dirinya sendiri. Jilbabnya selalu dihias sedemikian cantik olehnya dengan model yang unik dan bervariasi. Dia adalah gadis periang dan selalu menebarkan senyuman kepada orang-orang di sekelilingnya. Hobi menyanyinya digunakannya dimanapun dia berada. Dia selalu bersenandung di saat dia beraktivitas apapun yang suasanya tidak melarang dia untuk bernyanyi. Tidak menyangkalnya, suaranya memang halus merdu dan enak didengar.
“Eh Mel, ngomong-ngomong soal Stupa nih, gimana ceritanya sih kamu bisa pasangan sama si tampan itu?”
“Aditya maksud kamu?”
“Ya iya lah... siapa lagi? Emang kamu pasangannya sama pak Danu?hahaha...”
“Emm... Kebetulan kami kenal di ospek aja  kok.”
“Ah, Rona... Aditya itu kan pahlawan kesiangannya Melody... Eh, lebih tepatnya pahlawan kesorean.hahaha... Emang kamu ga tau?”
“Anggun... Apaan sih...”
“Wah, kayaknya aku ketinggalan cerita yang satu ini nih... Eh, tapi kamu enak banget Nggun dosen kita beda. Ga kayak pak killer itu. Baru hari pertama kuliah udah dikasih tugas seberat itu...”
“Halaahh... Biarin aja. Dengan begitu kan putri kita bisa PDKT sama si pangeran...”
“Anggun... Udah deh...
*     *     *     *     *     *
            Sore harinya, Melody dan Aditya mulai dengan penelitian pertama mereka. Karena tempat penelitiannya di tentukan oleh pak Danu, maka mereka harus mencari terlebih dahulu dimana tempatnya. Mereka mencari sebuah desa yang tertera di dalam alamat yang diberikan oleh pak Danu. Mereka harus bertanya dari desa satu ke desa yang lainnya. Setelah akhirnya mereka menemukan desanya, Cempaka Wangi, kemudian mereka mencari lokasi pastinya yang akan mereka teliti. Beberapa penduduk yang tinggal disana ikut membantu dalam pencarian lokasi itu dengan antusias. Dengan bantuan pak Wijaya, warga desa Cempaka Wangi, Aditya dan Melody tidak harus berputar-putar mengelilingi luasnya desa. Mereka hanya perlu mengikuti pak Wijaya dan langsung menemukan lokasinya. Dengan begitu mereka bisa menggunakan waktu mereka seefisien mungkin.

Kini mereka berada di depan sebuah bangunan tua berlantai tiga yang sepertinya sudah rapuh. Dindingnya sudah tidak bisa ditebak lagi warna dasarnya. Pintunyapun sudah tidak berbekas. Bahkan atapnya adalah langit. Ya, memang bangunan itu sudah lama tidak ditempati, juga tidak ada bekas renovasi. Menurut informasi dari warga, bangunan itu dulunya adalah rumah mewah yang terbakar karena arus pendek. Pemiliknya pindah dari desa itu dan membeli rumah mewah di luar kota. Rumah itu jauh dari kerumunan rumah lainnya. Tidak ada tetangga satupun di samping rumahnya. Nampaknya mereka menjalani kehidupan mereka tanpa bersosialisasi dengan warga. Karena mereka dari golongan konglomerat, mereka sudah tidak menginginkan rumah dan tanah mereka lagi akibat kebakaran itu. Akhirnya rumah itu menjadi bangunan yang tak terurus dan kini siap roboh kapanpun. Warga sekitar sudah menasehati mereka berdua agar berhati-hati dalam masa penelitian mereka. Setelah mengantarkan sampai tujuan, pak Wijaya meninggalkan mereka di bangunan itu. Kemudian mereka masuk dan mulai melakukan penelitian mereka bersama. Setelah matahari sudah enggan menampakkan sinarnya, mereka berdua bergegas pulang.
“Mel... Melody? Melody kan?”
“Hei... Iya. Masa lupa. Kamu apa kabar Nanda?”
Nanda adalah teman Melody saat duduk di bangku sekolah dasar. Tak heran jika dia agak tak mengenal Melody yang sekarang benar-benar anggun dan cantik. Karena dulu Melody adalah anak tomboi yang sering berkelahi dengan teman laki-lakinya. Tapi kenyataannya kini sungguh sangat berbeda dan berbanding 180 derajat.
“Wah, ini bener kamu Mel?Kamu sekarang beda banget... Ga nyangka bisa ketemu kamu disini. Sedang apa kamu disini?”
“Ya iya lah ini aku. Aku baru selesai penelitian. Kamu sendiri? Eh, gimana kabar kamu?”
“Eh, iya. Sampai lupa jawabnya. Kabar baik nih. Ak tinggal disini sekarang. Biar deket sama kampus. Kamu ambil jurusan apa nih?”
“Ohh... Aku arsitek. Kamu? Oh iya, kenalin, ini partner penelitianku, Aditya.”
“Aku ambil seni. Hai, bro. Aku Nanda...”
“Hai,.. Aditya.”
“Waoo... Vocalist ya bro? Keren nih suara kamu.”
“Hahahaa... Vocalist kamar mandi. Ada-ada aja kamu.”
“Biasa Dit, ilmu seninya Nanda lagi main tuh...”
Mereka melanjutkan obrolan mereka sambil berlalu dari bangunan itu.
*     *     *     *     *     *
Satu minggu, dua minggu, tiga minggu telah berlalu. Hari-hari pemuda dan gadis itu disibukkan dengan penelitian yang mereka garap. Pak Danu memberikan batas waktu satu bulan untuk menyelesaikan tugas-tugas mahasiswanya. Kini tiba hari terakhir mereka menyelesaikan riset mereka. Berdasarkan penelitian mereka selama beberapa minggu, mereka menyimpulkan bahwa informasi yang diberikan oleh warga desa Cempaka Wangi tidak semuanya benar. Bangunan yang tadinya dikatakan bisa roboh kapanpun ternyata adalah bangunan yang sangat kokoh meskipun sudah bertahun-tahun usianya. Ya, memang kualitas bahan-bahan bangunan yang digunakan oleh pemilik rumah itu sangat bagus. Sehingga struktur dan kekuatan bangunan itu bisa tahan lama. Mungkin salah satu faktornya adalah karena mereka mempunyai biaya untuk membuat rumah mereka sesempurna mungkin.
Oh iya Dit, aku periksa di lantai atas dulu ya. Bagian atapnya kan belum kita teliti.
“Atapnya biar aku aja Mel nanti yang kerjain kalo yang ini udah selesai.”
“Ah, ga apa-apa kok. Kamu selesaikan tugas kamu disini dulu aja. Lagian aku juga udah ga ada kerjaan nih. Daripada nganggur, kan bisa bantu kamu gitu.”
“Oke deh... hati-hati ya Mel.”
“Siap boss...”

Mereka mulai sibuk dengan riset mereka masing-masing. Aditya beranjak dari lantai satu ke lantai lainnya. Lantai yang terbuat dari keramik itu nampaknya sudah banyak yang retak. Bahkan ada yang sudah berkeping-keping. Pemuda 19 tahun itu mengeluarkan semua peralatan penelitiannya. Dia memang sudah mempersiapkannya jauh-jauh hari sebelum dia memulai penelitian. Karena dia paling suka meneliti bagian itu sehingga peralatannya sangat lengkap. Sementara Aditya meneliti struktur lantai di lantai dasar, Melody naik ke lantai paling atas. Gadis lemah lembut dengan jilbab yang terurai di dadanya itu dengan lincahnya menaiki anak tangga. Bahkan kalau saja anak tangga itu bisa bicara, mereka mungkin merengek kesakitan karena pijakan kaki Melody yang terlalu semangat. Setelah sampai di lantai 3, Melody langsung naik ke atap dengan tangga dorongnya. Dia berdiri di atas balkon yang langsung disapa oleh panasnya terik matahari. Tetapi sesampainya disana, dia tidak langsung mulai melaksanakan apa yang harus dia kerjakan. Dia melihat pemandangan di sekitar terlebih dahulu dan berkeliling sejenak. Ternyata memang indah pemandangan di bawah sana apabila di lihat dari atas. Gadis yang mudah kagum itu cukup lama menikmati indahnya pemandangan disana. Namun akhirnya dia sadar dari lamunannya dan mulai beraktivitas kembali. Setelah Aditya menyelesaikan tugasnya di bawah, dia kemudian menyusul Melody di balkon.
“Hei Mel, udah selesai belum?”
“Belum nih bentar lagi Dit. Kamu udah selesai di bawah?”
“Udah dong... sini aku bantu.”
        
         Dan akhirnya selesai juga penelitian mereka. Hanya butuh beberapa hari lagi untuk menyelesaikan laporannya. Mereka beristirahat dulu di balkon sambil minum softdrink dan makan beberapa camilan yang sudah mereka pesiapkan. Tiba-tiba mereka mendengar suara letusan. Sepertinya suara tembakan senapan. Tidak lama setelah itu sesuatu terjatuh ke tepi balkon dan masih bergerak-gerak. Mereka berdua mendekatinya. Ternyata seekor burung merpati yang cantik terkena tembakan di bagian sayapnya. Mungkin ada pemburu tanpa belas kasihan yang mengincarnya. Melody mengelus sayapnya yang terluka. Dengan segera dia mengambil kotak P3K di ranselnya dan berlagak seperti dokter hewan mengobati merpati itu. Setelah selesai di perban, merpati itu nampaknya lebih kuat sekarang dan dia mencoba untuk terbang lagi meskipun dengan kesakitan. Merpati itu melayang rendah di atas balkon. Melody mencoba meraihnya tapi dia tidak mempertimbangkan medan disekelilingnya. Dia terpeleset di tepi balkon dan segera dikejar oleh Aditya. Dia mencoba untuk meraih tangan Melody, namun sayang, dia tersandung batu kerikil di depannya dan dia pun ikut terpeleset. Aditya memegang tepi balkon dengan tangannya, sementara Melody memegang kedua kaki Aditya dan mereka sama-sama bergantungan tepi di balkon lantai 3. Dengan sekuat tenaga mereka berpegangan dan berteriak berusaha meminta pertolongan. Namun siapa yang akan mendengarnya. Rumah itu jauh dari rumah-rumah lain. Sepertinya tidak ada yang mendengar mereka. Cukup lama mereka bertahan dalam kondisi seperti itu. Tangan mereka mulai pedih dan pegal. Tapi mereka tidak bisa melakukan apa-apa selain berdoa dan menunggu seseorang datang menolong mereka meskipun kemungkinannya sangat kecil.

“Mel, tetap kuat ya Mel. Pasti akan ada yang datang menolong kita. Jangan sampai lepas ya Mel pegangannya”
“Aditya, tolong dengar aku. Dengar aku baik-baik. Apapun yang terjadi nanti, tolong kamu tetap berusaha hidup. Jangan menyerah dan tetap berusaha naik ya Dit..”
“Maksud kamu apa Mel? Kamu jangan memikirkan hal yang aneh-aneh Mel. Kita akan selamat. Kita berdua pasti selamat. Aku, dan kamu.”
“Tidak akan ada yang mendengar kita Adit. Kalau aku terus berada disini, kamu tidak akan bisa menggerakkan kaki kamu. Kamu tidak bisa berusaha naik. Dan kita akan mati bersama. Berjanjilah kepadaku Adit. Kamu akan hidup. Aku mohon.”
“Kamu ini ngomong apa sih Mel? Jangan macam-macam ah.”
“Kamu harus tetap hidup Dit. Demi aku. Terimakasih atas semua yang telah kamu berikan untukku selama ini ya Dit. Kamu adalah sahabat terbaikku. Kamu adalah anugrah terindah untukku. Selamat tinggal Aditya...”

            Melody melepaskan genggaman tangannya dari kaki Aditya. Aditya tidak menyangka bahwa Melody akan berbuat seperti itu. Dengan tangisan air mata Aditya mencoba naik ke atas dan mengulang pesan-pesan Melody dalam hatinya. Setelah dia selamat, dia langsung berlari menuruni anak tangga dua-dua menghampiri Melody yang bersimpuh darah. Aditya berteriak sekeras-kerasnya memanggil Melody dengan harapan dia akan kembali dan membuka kedua matanya. Tapi itu tidak mungkin terjadi. Melody sudah tiada. Dia mengorbankan hidupnya untuk seorang sahabat.

2 komentar:

Anonim mengatakan...

Ter haru...embun cocok jadi novelis

Embun on 7 Februari 2017 pukul 18.08 mengatakan...

Hihihii...
Aku baca cerita ini lagi malah lucu 😂

Posting Komentar

 

Sanju is SanjanaTriya Copyright © 2011 Designed by Ipietoon Blogger Template and web hosting